KPAI: 2013, Tahun Darurat Kekerasan Seksual Anak

Fathiyah Wardah
Dua orang anak sedang bermain di dekat sungai yang penuh dengan tumpukan sampah di Jakarta, 22 Maret 2011 (Foto: dok).

Dua orang anak sedang bermain di dekat sungai yang penuh dengan tumpukan sampah di Jakarta, 22 Maret 2011 (Foto: dok).

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut Tahun 2013 sebagai Tahun Darurat Kekerasan Seksual Anak dan mengimbau pemerintah untuk melakukan langkah-langkah khusus dalam menangani kekerasan seksual dan pornografi.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Badriyah Fayumi mengatakan kekerasan seksual pada anak saat ini berada pada titik yang sangat mengerikan baik kuantitas maupun kualitasnya.

Menurutnya selama tiga tahun, rata-rata 45 anak mengalami kekerasan seksual setiap bulannya. Kejahatan seksual pada anak sekarang ini kata Fayumi sudah pada titik yang sangat sadis dan di luar nalar sehat.

Bayi sembilan bulan, balita dan anak Sekolah Dasar, menurut Badriyah Fayumi, sudah menjadi korban dan meninggal dengan penyakit yang akut sebagai dampak kekerasan seksual. Dia mengatakan pelaku kekerasan seksual seringkali justru orang yang memiliki hubungan dekat dengan anak seperti orang tua, kakak atau adik, keluarga, tetangga, teman sepermainan , teman sekolah, dan guru di sekolah.

Dari sisi usia tambah Fayumi, pelaku kekerasan seksual bukan saja orang dewasa tetapi juga anak di bawah umur. Derasnya arus pornografi tambahnya menyebabkan semakin muda usia anak pelaku kekerasan seksual.

Ia mencontohkan pada awal November 2013 saja di Situbondo, seorang anak kelas 6 Sekolah Dasar (SD) memperkosa tetangganya yang masih berusia balita akibat sering menonton video porno.

Kemudahan mengakses materi pornografi lanjutnya merupakan salah satu faktor penyebab meningkatnya perilaku seks beresiko khususnya pada anak yang sudah memasuki masa remaja.

Badriyah Fayumi juga mengungkapkan anak korban kekerasan seksual selain kurang mendapatkan perlindungan hukum juga mengalami gangguan tumbuh kembang seperti trauma psikologis,depresi yang mendalam serta kerap mendapatkan stigma negatif dan tak jarang dikeluarkan dari sekolah.

"Tahun ini darurat kejahatan seksual. Dasarnya kejahatan seksual yang terjadi saat ini sudah di luar batas perikemanusiaan dan di luar batas nalar akal yang sehat. Secara kuantitatif juga mengalami peningkatan. Anak-anak pelaku kejahatan seksual semakin muda usiannya.Itu dari usia korban dan pelaku semakin muda. Bentuk kejahatannya pun sudah mulai mengerikan. Belum lagi bentuk kejahatan seksual online," jelas Badriah Fayumi.

Survei yang dilakukan Yayasan Kita dan Buah Hati menyebutkan 76 persen anak kelas 4 hingga 6 SD di Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang dan Bekasi (Jabodetabek) sudah pernah melihat konten pornografi. Sebagian besar anak mengunduh konten porno justru dari rumah mereka sendiri karena tidak sengaja, sementara sebagian lain mengunduh konten porno dari warnetm telpon genggam atau dari teman.

Badriyah Fayumi juga meminta pemerintah memperhatikan dan melakukan langkah-langkah khusus dan mempercepat tindakan untuk melindungi anak dari kekerasan seksual dan pornografi.

Masyarakat, keluarga dan orangtua menurut Fayumi perlu ditingkatkan pemahaman dan kapasitasnya dalam mengenali dan merespon pola-pola terkini kekerasan seksual dan pornografi, serta berperan aktif khususnya dalam pencegahan kekerasan seksual pada anak dan pornografi.

"Melakukan tindakan pencegahan,penanganan dan pemulihan terhadap anak di lingkungan-lingkungan terdekat anak yaitu di lingkungan sekolah, di lingkungan keluarga, di lingkungan RT/RW, di tempat bermain. Nah pencegahannya kaalau di sekolah ada sekolah ramah anak, kalau di RT ada RT/RW ramah anak," tambah Badriah Fayumi.

Sementara itu Juru Bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika Gatot Dewa Broto mengakui pemblokiran internet yang dilakukan kementeriannya belum banyak berpengaruh sehingga anak masih bisa mengunduh materi pornografi.

Meski demikian, Kementerian Komunikasi dan Informatika lanjut Gatot terus berusaha keras melakukan pemblokiran terhadap situs pornografi. Menurutnya saat ini sudah sekitar 1 juta situs pornografi yang berhasil di blokir. Kementeriannya kata Gatot juga telah bekerjasama dengan sejumlah pihak termasuk sejumlah kementerian untuk mengatasi masalah pornografi ini.

"Data yang kami peroleh per 2009, itu yang muncul per menit 28 hingga 30 ribu laman konten pornografi , ini muncul-muncul terus. Memang angka 1 juta masih terlalu kecil. Kadang-kadang tergantung edukasi makanya pemblokiran bukan satu-satunya. Kami melakukan edukasi bahkan pak Tifatul turun langsung , ada yang namanya internet goes to mall, berinteraksi langsung di sejumlah mall karena di mall itu segmentasinya beragam," kata Gatot Dewa Broto.

Tampilkan lainnya mengenai topik ini Berita / Indonesia
Kembali ke atas