PM Turki Kecam Kudeta Militer di Mesir

Versi terbaru per: 06.07.2013 14:21
Dorian Jones
Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan dalam sebuah sidang parlemen di Ankara (25/6). (Reuters/Umit Bektas)

Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan dalam sebuah sidang parlemen di Ankara (25/6). (Reuters/Umit Bektas)

Pengamat mengatakan kecaman Turki terhadap kudeta militer di Mesir adalah karena itu pukulan besar bagi ambisi Turki untuk memperluas pengaruhnya di Timur Tengah.

Perdana Menteri Turki Jumat (5/7) mengecam intervensi militer di Mesir yang menggulingkan Presiden dari kelompok Islamis Mohamed Morsi sebagai musuh demokrasi, dan mengecam Barat karena tidak menyebut penggulingan itu sebagai kudeta.

--

Para analis mengatakan, ada implikasi diplomatik yang besar bagi Turki dengan tergulingnya presiden Mesir itu.

Menurut Kadri Gursel dari surat kabar Turki “Milliyet”, Erdogan melihat Morsi memiliki banyak pendukung Islamis dan dukungan Islamis yang kuat ini dipandang Erdogan sebagai investasi yang baik secara politik, karena memberi kedua negara pengaruh diplomatik yang lebih luas di kawasan itu.

--

Merujuk pada sejarah kudeta negaranya, Recep Tayyip Erdogan memperingatkan bahwa tindakan militer semacam itu membawa akibat berat.

"Kudeta itu jahat. Kudeta mengorbankan rakyat, masa depan, dan demokrasi. Saya ingin ini diungkapkan oleh semua orang dengan keberanian. Saya terkejut dengan sikap Barat. Parlemen Eropa mengabaikan nilai-nilainya sendiri dengan tidak menyebut intervensi militer di Mesir sebagai kudeta. Ini adalah tes ketulusan dan Barat telah gagal,” ujarnya.

Baik pemerintahan Uni Eropa di Brussels dan Washington sejauh ini menahan diri dan tidak menyebut penggulingan Morsi sebagai kudeta.

Tapi sekutu-sekutu regional penting Ankara tampaknya juga mengambil pendekatan yang hati-hati. Arab Saudi dan Qatar mengucapkan selamat kepada Presiden Mesir sementara yang baru diangkat Adly Mansour.

Para pengamat mengatakan ada implikasi diplomatik yang signifikan bagi Turki dengan tergulingnya Presiden Mesir.

Menurut kolumnis diplomatik Kadri Gursel dari harian Turki Milliyet, Erdogan melihat akar Islamis Morsi yang kuat sebagai investasi yang baik secara politik, memberi kedua negara pengaruh diplomatik yang lebih luas di seluruh kawasan.

"Tergulingnya Morsi akan memberi dampak psikologis yang berat pada pemerintah Turki. Apa yang disebut kebijaksanaan besar dalam membangun tatanan regional baru dengan rezim-rezim Islam pasca pergolakan Arab, terutama Mesir, Tunisia, Libya, dan dalam hal ini masa depan Suriah, juga dilihat sebagai faktor penentu. Jadi tatanan baru regional, kecuali pelaku asing di kawasan, semua ini, sudah hilang,” ujarnya.

Rencana Perdana Menteri Erdogan melakukan perjalanan kontroversial ke Jalur Gaza yang dikuasai Islamis juga mungkin terancam. Kunjungan ini telah berulang kali tertunda karena kekhawatiran Washington, Tel Aviv dan Palestina.

Gursel mengatakan dengan tersingkirnya Presiden Morsi sama saja menghancurkan harapan bagi kunjungan Erdogan ke Gaza.

"Erdogan tidak akan pergi ke Gaza dalam jangka waktu yang tidak terbatas. Karena dengan kondisi ini ia tidak bisa pergi ke Gaza melalui Gerbang Rafa. Tidak akan ada sambutan baginya di Mesir. Dia tidak bisa pergi ke Mesir yang dikuasai militer. Itu mustahil,” ujarnya.

Hilangnya satu sekutu penting di Timur Tengah merupakan pukulan lain bagi popularitas Erdogan, yang telah tercoreng dengan kerusuhan sipil berminggu-minggu terhadap kepemimpinannya. Para pengamat menunjukkan itu kemungkinan hanya menambah persepsi yang berkembang bahwa Ankara semakin terpojok.

Tampilkan lainnya mengenai topik ini Berita / Dunia
Kembali ke atas