Polusi Udara di China Utara Turunkan Angka Harapan Hidup

Kabut asap menyelimuti Beijing akibat polusi.

Kabut asap menyelimuti Beijing akibat polusi.

Para ilmuwan mengatakan pembakaran batu bara selama puluhan tahun telah meningkatkan jumlah kematian akibat penyakit pernafasan dan jantung di China Utara.

Para peneliti yang mempelajari dampak kesehatan polusi udara di China mengatakan bahwa masyarakat di bagian selatan negara itu rata-rata hidup 5,5 tahun lebih lama dibandingkan mereka di bagian utara.

Menggunakan data kesehatan dan polusi yang dikumpulkan sumber-sumber resmi China, para ilmuwan menyimpulkan bahwa pembakaran batu bara selama puluhan tahun telah meningkatkan jumlah kematian akibat penyakit pernafasan dan jantung di wilayah sebelah utara Sungai Huai, yang dianggap garis pemisah China utara dan selatan.

Para akademisi dari Amerika Serikat, Israel dan China menyimpulkan bahwa kebijakan-kebijakan batu bara pemerintah yang diberlakukan sejak era Mao telah menyebabkan kandungan partikel tersuspensi lebih tinggi di wilayah utara.

Li Hongbin, profesor ilmu ekonomi di Tsinghua’s School of Economic and Management dan salah satu peneliti, mengatakan bahwa pemanasan pada musim dingin merupakan sebuah alasan utama tingginya emisi di utara China yang berudara dingin.

"Wilayah utara China bergantung pada pemanasan sentral yang berasal dari pembakaran batu bara yang menyebabkan polusi udara berat. Ini salah satu alasan penting mengapa ada perbedaan besar dalam tingkat polisi antara daerah utara dan selatan," ujarnya.

Studi tersebut, yang diterbitkan jurnal Amerika The Proceeding of National Academy of Sciences, menunjukkan bahwa pembakaran batu bara yang berlebihan meningkatkan kandungan jelaga, asap dan partikel yang dibawa udara lainnya, atau total partikel tersuspensi, 55 persen lebih tinggi di bagian utara Sungai Huai.

Li Hongbin mengatakan bahwa "pada dasarnya, paparan terhadap tingkat partikel tersuspensi total di atas 100 mikrograms per meter kubic mengurangi angka harapan hidup sekitar tiga tahun dan meningkatkan tingkat kematian menjadi 14 persen."

Saat ini negara itu masih membakar batu bara untuk tetap hangat. Selain pemanasan sentral, batu bara juga digunakan untuk bahan bakar industri di provinsi-provinsi utara selama puluhan tahun.

Tampilkan lainnya mengenai topik ini Berita / Dunia / Asia Pasifik
Kembali ke atas